Vertikal di Via Feratta


                                                        


Enaknya di kantor saya itu, ada employee clubnya. Dan setiap bulan masing-masing klub diberi dana untuk dihabiskan untuk kegiatan atau aktifitas yang positif (baca: bersenang-senang). Ada klub olahraga seperti futsal, badminton, renang, golf, yoga, zumba, snorkeling, diving, sampai billiard dan pecinta alam. Kebetulan saya bergabung di klub pecinta alam alias klub pecinta jalan-jalan, kenapa memilih klub pecinta alam? Karena setiap bulannya bisa jalan-jalan gratis dibayarin kantor.

Untuk bulan Nopember kemarin tujuannya adalah memanjat tebing Via Veratta / Verrata / Ferrata (nggak tau yang mana benar cara menulisnya). Via Veratta ini terletak di Gunung Parang, Purwakarta. Kalau dari Jakarta, memakan waktu 2 sampai 3 jam perjalanan dengan mobil. Kebetulan kami semua berangkat kesiangan dan pak Supirnya dua kali salah masuk jalan tol, jadinya perjalanan ditempuh hingga 4 jam dan sampai disana udah siang banget!

Awalnya kami menganggap sepele, karena dari foto promosinya  tebing yang mau kami panjat terlihat tidak tinggi dengan foto anak belasan tahun yang senyum sumringah di puncak. Tapi, saat mobil kami melintasi area gunung dan melihat tebing yang akan kami panjat, perut pun mulai nggak karuan rasanya, semuanya pada pucat, ternyata tebingnya bikin titititit nyali ciut. Tingginya 150 meter man!

Sesampainya di meeting point, kami pun istirahat sebentar lalu bersiap-siap memasang safety gear dan mendengarkan instruksi dari intrukturnya. Ternyata Via Veratta ini sangat aman untuk pemula yang belum memiliki pengalaman panjat-memanjat sama sekali. Karena saat memanjat kita tidak perlu berpijak dan bertumpu pada bebatuan di tebing tersebut. Sudah tersedia pijakan besi seperti tangga untuk memudahkan kita memanjat. Oh iya, Via Veratta itu artinya "Jalur Besi" diambil dari bahasa Itali. Konon ini merupakan jalur tentara sekutu untuk memasok logistik pada jaman perang dulu.

"Duh mas, agak susah masukkinnya. Kegedean (pahannya)"

Foto dulu sama tebingnya
\
Denger instruksi lalu berdoa...

Meski begitu, tetap saja saya dan beberapa teman lainnya keki, karena tebing yang akan dipanjat selain tinggi juga sangat vertikal. Melihat keatas saja, saya bergidik. Nggak yakin apa saya bisa sampai ke puncak, mengingat kejadian bianglala di Dufan dua minggu yang lalu.

Ok, saatnya manjat!

Karena ada dua grup yang memanjat, grup satunya lagi adalah cewek-cewek putih mulus ala SNSD, jadinya kita ngalah dan mereka naik duluan. Duh, semakin menuju giliran saya memanjat, semakin nggak karuan rasanya. Rasanya pengen nyerah aja, tapi masa' kalah sih sama cewek-cewek mulus itu.


Group Cewek-Cewek SNSD

Giliran saya pun tiba (saya yang paling akhir manjat sih >.<). Hap... hap... hap... sepuluh anak tangga udah dipanjat, padahal belum berapa meter saya manjat, tapi saya nggak berani melirik kebawah. Kaki gemetaran, tangan pun mati rasa, ditambah angin yang kencang berhembus. Makin lemas lah saya.  Hap... hap... hap... makin keatas, ternyata makin santai. Tebingnya tidak selalu vertikal, jadi kalau capek bisa nyandar sebentar di bahu mas-mas instrukturnya di dinding tebingnya. Mas-mas instrukturnya juga sangat berperan (berperan ya, bukan baperan) membuyarkan rasa takut kami saya dengan foto-foto. Pokoknya setiap naik 5 meter harus diabadikan.

Haeee...

Selama memanjat ada beberapa titik dimana kita bisa beristirahat tanpa harus bergantung dengan pijakan besi. Meski cuma pijakan sedikit, kami bisa santai (sambil foto-foto lagi). Dan kali ini benar-benar udah nggak takut sama sekali buat melihat ke bawah. Sampai di atas pun, ada cerukan kecil yang bisa di pakai untuk duduk santai menikmati semilirnya angin dan juga pemandangan cihuy banget! Ada waduk Jatiluhur, sawah dan pemukiman penduduk, serta beberapa gunung kecil yang ada di sekitar tebing.

Udah sombong, bisa pasang gaya..

Untuk turun kembali ke tanah, ternyata tidak seindah pemandangan yang disajikan, kami semua harus turun dengan menggunakan tali. Tidak ada pijakan besi untuk turun, kecuali mau mutar balik ke arah awal memanjat tadi. Ini lah tantang berikutnya. Dengan kondisi kemiringan tebing hampir 90 derajat harus turun kebawah ala-ala film action. Kaki saya lemas sekali menghadapi kenyataan itu, terlebih si mas-masnya komentar kalau pake sendal gunung akan lebih sulit karena suka slip. Tapi lagi-lagi, masa saya kalah sih sama cewek-cewek SNSD yang udah duluan turun?!

75 meter pertama, kita harus turun dengan metode berjalan (vertikal). Karena banyak cerukan kecil jadi kita harus turun sambil melihat-melihat kebawah agar tidak salah pijak. Nah, 75 meter berikutnya, ini yang seru, kita disarankan turun dengan metode rappling ala-ala film Hollywood. Ternyata, turunnya tidak seseram yang saya bayangkan sebelumnya. Tetap menegangkan sih, tapi, rasa 'menyenangkan' yang dirasakan saat turun, nggak bisa dideskripsikan dengan kata-kata!

Muka gembira, meski lutut gemeteran.

Akhirnya sampai juga di bawah. Baju saya udah basah banget karena keringat, kulitpun gosong terbakar sinar matahari. Tapi rasa senang dan puas yang didapatkan karena telah berhasil mengalahkan diri sendiri dari rasa takut itu benar-benar nggak bisa dijelasakan. Pokoknya seru sekali!

Weekend kalian ngapain? Kita sih manjat tebing... :)))

Comments

Popular posts from this blog

Klaim Asuransi Smartphone by Tec-Protec

Trip Ke Hanoi #3 : Halo, Ha Long Bay

[Snack Time!] Mony Jelly Jus