Trip Ke Hanoi #4 : Menikmati Senja di Hoan Kim Lake dan Old Quarter

Selain Ha Long Bay, tempat yang wajib kalian kunjungi saat berada di Hanoi adalah Hoan Kim Lake. Terletak di Old Quarter membuat danau ini tidak sulit untuk ditemukan, apalagi kalau kalian menginap disekitar sana. Old Quarter sendiri merupakan kawasan turis dan di Hanoi, nggak heran kalau di daerah ini sangat ramai dan banyak sekali penginapan mulai dari yang berbintang hingga yang kelas melati / hostel.

Kalau kalian menginap di daerah ini, dijamin kalian tidak akan bosan, karena setiap sudut jalan kawasan ini menarik untuk dijelajahi dan banyak spot bagus untuk foto-foto.  Selain itu kalian tidak akan kesusahan untuk mencari makanan, karena di daerah ini banyak sekali yang menjual makanan. Mulai dari pho, banh mi, barbeque, dan masih banyak lagi.

Sayangnya, saat saya kesana masih banyak toko dan tempat makan yang tutup karena masih dalam suasana tahun baru Tet. Meski begitu, kawasan ini tetap ramai oleh para turis dan juga warga lokal yang menghabiskan waktu bersama keluarga, sahabat dan juga pasangan.

Menghabiskan libur tahun baru bersama keluarga

Tujuan pertama saya adalah mengunjungi Masjid Al-Noor. Tidak sulit menemukan masjid yang terletak di jalan Hang Luoc ini, cukup jalan kaki sepuluh menit dari Hoan Kim Lake, dan kalian akan menemukan masjid yang mungkin hanya satu-satunya yang ada di kota ini. Masjidnya sendiri tidak terlalu besar dan sedikit tertutup oleh pagar yang cukup tinggi. Di sebelah masjid ini, terdapat restoran yang menjual makanan lokal yang halal. Sayang, saat itu restoran tersebut tidak buka. Jadi saya tidak bisa mencicipi makanan halal yang ada di sana.


Gerbang masuk Masjid Al-Noor

Semakin sore, jalanan semakin ramai oleh turis dan warga setempat yang menggelar dagangannya. Karena saya belum makan siang, saya pun mencari makanan terlebih dahulu. Saya tidak tau restoran mana yang enak dan juga saya sudah terlalu lapar untuk mencari, jadi saya putuskan untuk mampir ke salah satu toko yang menjual Banh Mi, sandwich khas Vietnam. Saya pilih karena antrian di toko ini cukup panjang (mindset saya, ramai berarti enak). Saya memesan banh mi isi daging sapi (karena saya masih trauma makan ayam di sana) seharga VND 35.000,- ( sekitar Rp. 23.000,-). Tekstur rotinya sangat menarik, bagian luar rotinya garing dan renyah. Untuk isiannya menurut saya biasa saja, mungkin karena saya tidak terlalu suka dengan daging. 

Banh Mi

Setelah perut terisi, saya melanjutkan petualangan ke atraksi utama, Hoan Kim Lake. Suasana senja disana indah sekali. Cahaya jingga dari matahari yang hendak terbenam memantul indah diatas air danau. Meski sangat ramai, tapi ada beberapa spot yang cukup sepi sehingga cukup romantis untuk menikmati suasanya bersama pasangan. Saya pun berhayal kalau saja ada tempat yang seperti ini ditengah kota Jakarta atau Pekanbaru, pasti jadi tempat alternative untuk berkumpul.

Ngoc Son Temple di malam hari
Romantis kan mereka pemandangannya?

Disini juga banyak pedagang kaki lima. Ada yang menjajakan makanan dan camilan,  es krim, minuman, lukisan, mainan, bahkan pengamen juga ada. Uniknya, disini kursi-kursi yang disediakan adalah kursi pendek (seperti kursi jongkok buat nyuci). Di sekitar danau juga terdapat vending machine yang menjual minuman (wah Monas kalah nih), jadi kalau haus nggak usah repot cari Indomaret / Alfamart (emang ada?!).

Begini lah penampakan kaki lima di Hanoi

Ada yang jual jus nenas, sosis bakar, rujak, dan banyak lagi.

Ditengah danau terdapat Ngoc Son Temple yang terhubung oleh jembatan lengkung berwarna merah. Saat saya kesana kuil dan jembatan dipadati oleh masyarakat lokal dan turis dan harus antri untuk menunggu giliran. Sayangnya saat giliran saya sudah dekat, waktu berkunjung kuil tersebut sudah habis, sehingga tidak bisa lagi masuk kedalam kuil. Jadi saya hanya bisa menikmati kuil tersebut dari pinggiran danau saja.

Turis dan warga lokal yang nggak habis-habis mengunjungi Ngoc Son Temple

Rameee banget!

Tidak jauh dari Hoan Kim Lake, ada patung Ly Thai To, seorang pendiri Dinasti Ly yang berkuasa dari tahun 1009 hingga 1028 dan juga seseorang yang punya andil dalam memindahkan ibukota Vietnam ke Hanoi pada tahun 1010. Di sekitar area ini banyak sekali tukang odong-odong, ya persis sekali seperti di Jakarta. Ada yang menyewakan mobil radio kontrol, otoped, sepatu roda, dan masih banyak lagi.

Masyarakat memanjatkan doa di depan patung Ly Thai To

Suasana di sekitar patung Ly Thai To

Dari situ saya lanjut berkeliling daerah Old Quarter. Jalanan semakin padat oleh pedagang makanan yang sangat menggoda iman, tapi karena ragu dengan ke-halal-an makanannya, saya urungkan niat untuk jajan disana. Dan lebih memilih untuk mencari oleh-oleh. Banyak toko yang menjual pernak-pernik khas Vietnam yang bisa dijadikan oleh-oleh. Tidak usah ragu untuk menanyakan harga dan menawar saat berbelanja. 

Toko souvenir yang ada hampir disetiap sisi jalan

Godaan di setiap sudut jalan.


Salah satu toko yang saya kunjungi mengatakan bahwa dompet kecil rajutan dengan harga "fifteen", saat saya bayar dengan pecahan VND 50.000,- untuk tiga buah dompet tersebut, sang pemilik malah menolak dan mengambil kembali belanjaan saya. Ternyata maksud dia adalah VND 150.000,- satunya, bukan VND 15.000,-. Saya pun tidak jadi belanja di sana karena harganya mahal sekali.

Setelah tanya dan tawar sana-sini, saya akhirnya menemukan toko yang harga souvenirnya cukup paling murah, nama tokoknya Phuc-Long . Dan yang buat saya terkejut, sang pemilik toko menawarkan dagangannya dalam bahasa Indonesia saat tau saya berasal dari Indonesia. “Ini mulah, itu juga mulah, Cuma sepuluh ribu rupiah saja”, saat saya menanyakan harga gantungan kunci berbentuk topi caping khas Vietnam. Selain pernak-pernik, toko ini juga menjual perlengkapan outdoor, mulai dari jacket, celana, hingga keril. Harganya pun cukup murah dan masih bisa ditawar.


Ini Si Cici yang bisa Bahasa Indonesia

Sudah jam sembilan malam. Sebenarnya masih ada satu tujuan lagi, yaitu Ho Chi Min Mausoleum, makam presiden pertama Vietnam. Yang menariknya, setiap malam, ada upacara penurunan bendera disana. Tapi, kaki saya sudah nggak kuat lagi untuk jalan, jadi saya putuskan untuk mengakhiri petualangan hari ini dan kembali ke hotel.

Comments

  1. Asik ini jalan-jalan terus! Gimana hanoi cukup rapih nggak kotanya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kerja om, belum sanggup jalan-jalan internesyenel selain dibayarin kantor.
      Mirip sama Jakarta sih, macet dan semrawut lalu lintasnya. Tapi karena pas kesana lagi libur "lebaran" jadi kaya Jakarta pas lebaran lah sepi. Bedanya cuacanya disini sejuk kaya lembang gitu, jadi enak buat jalan kaki.

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

A Job Seeker Story - Astra International

Menerkam Godzilla Burger di Dino Steak and Pasta

Klaim Asuransi Smartphone by Tec-Protec